PENDAHULUAN

 

Puji serta rasa syukur kami panjatkan khadirat Allah SWT Yang telah mengutus Nabi-Nya sebagai pelaksana dan penjelas syari’at-Nya. Shalawat teriringkan salam senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia menjadi umat beradab dengan menjalankan seluruh syari’at dan aturan Allah SWT yang dicontohkan dan dijelaskan oleh beliau.

 

Wudhu adalah sebuah “ritual ” yang telah sering kita dengar bahkan kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ummat muslim di belahan dunia manapun meski banyak diantara  masyarakat muslim tersebut yang belum mengetahui sumber ketetapan hukum bahkan praktiknya secara terperinci. Dalam karya tulis ini kami tidak bermaksud untuk memunculkan  ataupun memancing kembali perdebatan yang tak kunjung usai, tapi justru kami bermaksud untuk “melerai” dua kubu yang selalu bertikai-pendapat tersebut dengan menjelaskan titik-titik yang mereka perdebatkan dan perbedaan-perbedaan yang terpusat pada pendapat empat imam madzhab yang diakui dan beberapa ulama yang “bernaung” dibawah nama mereka yang juga diakui dalam dunia keilmuan.

Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi orang-orang yang membutuhkan, wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariq.

 

Penyusun

 

 


DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ……………………………………………………………..…1

DAFTAR ISI ……….……………………………………….…………………… 2

BAB I

Pengertian Wudhu & Ketetapan Hukumnya ……………………………..…… 3

BAB II

Fardhu-fardhu Wudhu ………………………………….……………………… 4

BAB III

Sunnah-sunnah Wudhu ………………………………..……………………….. 6

BAB IV

Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu …………………………………………. . 9

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………….……….. 10

PPANUTUP ………………..……………………………………….…………… 11


BAB I

PENGERTIAN WUDHU DAN KETETAPAN HUKUMNYA

Wudhu dapat dibaca dengan dua cara, yang pertama dengan meletakkan فتحة di huruf wau و   yang dapat berarti sesuatu yang digunakan untuk berwudhu atau tempatnya. Sedangkan bila dibaca dengan logat yang selama ini kita sering dengar yaitu wudhu dengan  ضمّة  di huruf wau و , yang dapat diartikan sebagai perbuatan  yang dapat membolehkan untuk sholat, thowaf, dan membaca al Qur’an[1]. Ini adalah pengertian wudhu yang dirumuskan oleh sebagian ulama terutama madzhab al Imam as Syafi’i yang banyak dimuat dalam kitab-kitab yang merujuk kepada madzhab ini. Dalam beberapa naskah kitab wudhu dikatakan berasal dari kalimat الوضائة   yang berarti baik, bagus, dan bersih, dengan sebab itulah wudhu untuk sholat dinamai wudhu karena wudhu tersebut dapat membersihkan orang yang wudhu dan dapat membuatnya menjadi baik atau bagus. Adapun secara syar’i wudhu adalah sebuah ibadah yang menggunakan air pada beberapa anggota badan yang dikhususkan dengan tata-cara khusus dan dengan niat khusus[2].

Dalam pensyari’atan wudhu kita bisa mengambil tiga dasar pengambilan hukum, yaitu al Qur’an surah al Ma’idah ayat ke-6 yang berbunyi :

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3řrâäãÎ/ öNà6n=ã_ö‘r&ur ’n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# 4 bÎ)ur öNçGZä. $Y6ãZã_ (#r㍣g©Û$$sù 4 bÎ)ur NçGYä. #ÓyÌó£D ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!%y` Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãMçGó¡yJ»s9 uä!$|¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y6ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNà6Ïdqã_âqÎ/ Nä3ƒÏ‰÷ƒr&ur çm÷YÏiB 4 $tB ߉ƒÌãƒ ª!$# Ÿ@yèôfuŠÏ9 Nà6ø‹n=tæ ô`ÏiB 8ltym `Å3»s9ur ߉ƒÌãƒ öNä.tÎdgsÜãŠÏ9 §NÏGãŠÏ9ur ¼çmtGyJ÷èÏR öNä3ø‹n=tæ öNà6¯=yès9 šcrãä3ô±n@ ÇÏÈ

 

Dan hadits Nabi SAW yang telah tetap keshahihannya menurut ulama hadits, yang berbunyi :

لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأُس

Dan Ijma' ulama, yaitu dengan tidak ada perbedaan pendapat yang dinukil tentang pensyari'atan wudhu, walaupun memang ditemukan ikhtilaf pada masalah naqli-nya yang akan menimbulkan pebedaan pendapat, yang akan dibicarakan dalam bab masalah rukun-rukun wudhu, sunnah-sunnah, dan hal-hal yang dapat membatalkan wudhu.

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

FARDHU-FARDHU WUDHU

Fardhu adalah ketetapan atau rukun yang harus dilakukan oleh orang yang berwudhu agar wudhunya sah, adapun dasar hukum fardhu wudhu adalah surah al Maidah ayat ke-6 yang telah kami sebutkan diatas, menurut madzhab al Imam Abu Hanifah fardhu wudhu hanya teringkas pada empat hal yang disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu membasuh wajah, membasuh tangan sampai kedua siku, mengusap / menyapu kepala, membasuh kaki sampai dua mata kaki, dan menurut madzhab ini jika seseorang hanya melakukan terbatas dengan apa yang disebutkan pada ayat tersebut, maka wudhunya sah dan otomatis sholatnyapun sah dan boleh melakukan segala sesuatu perbuatan yang memerlukan wudhu untuk membolehkannya.

Dalam masalah fardhu wudhu, seluruh ulama telah sepakat bahwa fardhu wudhu adalah yang telah disebutkan dalam ayat tersebut, sebagaimana telah dikutip diatas bahwa madzhab Hanafiyah tidak menambahkan fardhu-fardhu tersebut sedikitpun. Menurut madzhab al Imam Malik bin Anas ( Malikiyah ) fardhu wudhu terdiri dari tujuh hal; yaitu niat, membasuh wajah, membasuh dua tangan sampai dua siku-nya, menyapu seluruh kepala, membasuh kaki sampai dua mata kaki-nya, muwalat الموالة   yaitu berturut-turut, dalam artian dilakukan bersambung dari satu anggota basuhan ke anggota yang lain tanpa ada jeda waktu yang lama, yang terakhir menggosok ( الدلك ) anggota wudhu disetiap basuhannya. Sedangkan menurut madzhab al Imam asy Syafi'i, fardhu wudhu terdiri dari enam hal yaitu pertama niat sebagaimana madzhab malikiyah meletakkan niyat dalam bagian fardhu wudhu, adapun dalil yang digunakan adalah surah al Bayyinah ayat ke 5 yang ber bunyi :

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#r߉ç6÷èu‹Ï9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# الأية

 

 

Dan hadits masyhur yang berbunyi :   اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

Ini adalah pendapat yang diutarakan oleh Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Abu Tsaur. Antara madzhab Imam Malik dan Imam Syafi'i berakuran dalam masalah niat baik secara  pengertian, tatacara niyat, waktu, dan tempat niat, namun keduanya berbeda faham pada dua masalah yaitu pada masalah bertepatannya dengan membasuh muka, dalam madzhab Syafi'iyah niat harus diucapkan dalam hati berbarengan ketika membasuh muka dan jika tidak, maka wudhu yang dilakukan tidak sah, sedangkan dalam madzhab Malikiyah hal tersebut tidak disyaratkan dalam niyat wudhu apakah harus berbarengan dengan membasuh muka, maupun diucapkan terlebih dahulu sebelum memulai berwudhu tetapi jarak yang tercipta antara niyat dan pekerjaan wudhu tetap dianggap يسيرا , artinya tidak terlalu jauh dan masih dalam hitungan 'uruf atau kebiasaan.

Masalah yang kedua adalah arah dari niyat tersebut, menurut madzhab Syafi'iyah; niyat mengangkat hadats dalam wudhu tidak sah secara mutlak dan ini sema dengan apa yang diutarakan oleh madzham Malikiyah, bahkan niyat itu sah menurut qoul shahih. Adapun untuk orang atau keadaan yang mendapatkan udzur seperti orang yang senantiasa berhadats, maka orang tersebut diperbolehkan berwudhu dengan niyat untuk "memperbolehkannya" untuk sholat, menyentuh mushhaf dan hal lainnya yang membutuhkan wudhu, atau orang tersebut berniat untuk menunaikan kefardhu-an wudhu أداء فرض الوضوء. Dan hal itu dikarenakan hadatsnya tidak mampu terangkat atau hilang dengan wudhu, bila seseorang berwudhu dengan niat untuk mengangkat hadats maka hadats tersebut tidak mampu terangkat, karena Syaari'  الشّارع  ( pembuat syari'at, Allah SWT dan Nabi SAW ) menetapkan wudhu untuk memperbolehkan sholat dan hal lainnya[3].

Kedua membasuh muka dengan batasan-batasan yang telah kita ketahui, yang ketiga membasuh kedua tangan beserta dua siku-nya, keempat menyapu sebagian kepala walaupun sedikit, ini berbeda dengan pendapat yang diutarakan oleh Madzhab Malikiyah dan Imam Malik yang mengatakan bahwa menyapu kewajiban menyapu kepala adalah seluruh kepala karena ayatnya berbunyi     وَ امْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ   yang menunjukkan bahwa kepala dalam ayat ini adalah mutlak kepala, dalam kaidah ushul fiqh disebutkan اِذَا اُطْلِقَ الشَّيْئُ يَعُوْدُاِلَى فَرْدٍ كَامِلٍ  yang artinya apabila sesuatu disebutkan dalam bentuk mutlak, maka yang dimaksud adalah bagian yang sempurna, maka dengan ini mereka berpendapat bahwa kepala yang dimaksud adalah kepala secara keseluruhan, dalam kitab Bidayah al Mujtahid karya Imam Ibnu Rusydi dikatakan :” Imam Syafi’i, sebagian Ashhab Malik, dan Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa kefardhuan dalam menyapu kepala adalah sebagian kepala, dan diantara Ashhab Malik ada yang membatasi sebagian dengan sepertiga, dan ada pula diantara mereka yang menbatasi dengan dua pertiga[4]“. Menurut Imam Abu Hanifah, yang dimaksud kepala dalam ayat ini adalah seperempat bagian kepala, karena setelah kata-kata  وَامْسَحُوْا  diiringi dengan huruf ba’ (باء)   yang berfaidah للإلصاق   yaittu berarti menempelkan, dan ke-ilshokan-an tersebut memberi tahu bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seperempat[5]. Menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud kepala adalah sebagiannya, karena beliau madzhab ini berpendapat bahwa huruf ba’ (باء)  yang ada di awal kata بِرُؤُوْسِكُمْ berfaidah للتبعيض yang berarti membagi-bagi menjadi bagian, dan juga sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Nabi SAW dalam hadits shohih, bahwa Nabi SAW pernah hanya menyapu ujung rambutnya atau ubun-ubun ( jambul ناصية / عِمامة )[6]. Adapun pendapat Imam Ahmad bin Hanbal pada masalah ini ada dua riwayat, yang pertama sesuai dengan pendapat Imam Syafi’i, yang kedua sesuai dengan Imam Malik, sebagaimana telah ditahqiq oleh al Kharaqi rahimahullahu ta’la[7]. Fardhu  wudhu yang kelima menurut Imam Syafi’i, adalah membasuh kaki, yang keenam tertib, artinya beraturan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam al Qur’an dan hadits Nabi SAW.

Adapun fardhu-fardhu wudhu menurut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal ( hanabilah )  itu ada enam hal., yaitu seperti apa yang telah kami sebutkan di atas, yaitu yang tertera dalam surah al Maidah ayat ke-6, namun mereka menambahkan dua hal; yaitu tartib dan muwalat di akhir fardhu-fardhu wudhu, namun tanpa ada kefardhuan niat di awalnya.

 

BAB III

 

SUNNAH-SUNNAH WUDHU

Dalam pendefinisan sunnah, ada beberapa pendapat diantara para ulama madzhab, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa sunnah, mandub, mustahab, dan fadhilah adalah satu beberapa kata yang memiliki persamaan makna yaitu sesuatu yang jika dilakukan akan menghasilkan pahala untuk yang melakukannya dan tidak akan dikenakan siksa bagi yang meninggalkannya. Ada juga yang berpendapat bahwa sunnah berbeda dengan mandub dan mustahab, karena adanya tuntutan dari orang yang menguatkan ( أَكد ) dan atas setiap keadaan, maka orang yang melakukannya diberi pahala dan bagi yang meninggalkannya tidak dikenakan adzab, ada juga yang setelah ia berpendapat bahwa empat kata tersebuut berbeda membagi sunnah menjadi dua yaitu muakkad dang air muakkad, bagi orang yang meninggalkan sunnah muakkad mendapatkan hukuman dengan tidak mendapatkan syafa’at Nabi SAW di hari kiamat kelak sekalipun memang tidak dikenakan adzab neraka[8].

Dalam penetapan sunnah-sunnah wudhu masih banyak perdebatan yang terjadi diantara para ulama terutama para imam madzhab dalam beberapa masalah yang masih diperdebatkan kedudukannya apakah sunnah, atau syarat, atau fardhu. Diantaranya adalah mencelubkan kedua tangan kedalam bejana sebelum berwudhu, diantara ulama yang berpendapat bahwa itu pekerjaan sunnah adalah Imam Syafi’i dan Imam Malik itu pun jika yakin bahwa tangan tersebut suci, ada juga yang pendapat yang mengatakan bahwa pekerjaan itu mustahab dan pendapat ini juga diriwayatkan dari pendapat Imam Malik. Menurut Daud az Zhohiri dan kalangan Ashhab-nya perbuatan itu wajib sebagai peringatan bagi yang tidur dimalam hari[9]. Adapun hadits yang berkaitan dengan masalah ini adalah :

اِذَا اسْتَيْقَظَ اَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الْاِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَ ثَلَاثًا، فَاِنَّهُ لَا يَدْرِى اَيْنَ بَاتَتْ يَِدُهُ[10]

Dalam kitab Mishbah az Zholam karangan Syeikh Moh. Muhajirin Amsar ad Dary dikatakan bahwa larangan ini ditujukan kepada penduduk Hijaz yang memang terbiasa beristinja’ dengan batu dan daerah mereka adalah daerah yang sangat panas, sehingga ketika mereka tidur akan bercucuran keringat dan keringat tersebut mengalir ke dubur yang hanya di-istinja’-kan dengan batu, maka bisa dikatakan tempat itu adalah tempat yang mutanajjis, dan larangan ini bersifat littahrim. Tetapi larangan ini tidak diarahkan untuk orang yang terbiasa beristinja dengan menggunakan air. Dan taqrir hukum dari masalah ini tidak hanya dikhususkan kepada orang yang bangun tidur akan tetapi lebih difokuskan bagi orang yang ragu dengan keadaan tangannya[11].

Diantara hal-hal yang diperdebatkan oleh alim ulama adalah masalah berkumur ( المضمضة  ) dan istinsyaq dalam wudhu, ada tiga pendapat masyhur dalam masalah ini; yang pertama keduanya sunnah sebagai mana yang diutarakan oleh Imam Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah. Pendapat yang kedua, keduanya fardhu ini dilontarkan oleh Ibnu Abi Layla dan sekelompok pengikut Daud az Zahohiry, pendapat yang ketiga mengatakan bahwa istinsyaq fardhu  dan berkumur sunnah, ini dikatakan oleh Abu Tsaur, Abu ‘Ubaidah, dan sekelompok pengikut az Zahohiry. Perbedaan pendapat ini didasari dengan adanya hadits-hadits yang menyebutkan berkumur sebagai tata cara pelaksanaan wudhu, apabila ada yang perpendapat bahwa itu hanya tambahan saja maka keduanya sunnah, karena kalau wajib pasti akan ada pertentangan dengan nash al Qur’an-nya, dengan demikian sudah jelas bahwa hadits tersebut ingin mengecualikan dua hal tersebut sebagai sunnah wudhu[12].

Dalam penetapan sunnah-sunnah wudhu juga dibicarakan tentang bilangan basuhan maupun sapuhan, dalam perintah di ayat temtang wudhu memang tidak dijelaskan apakah sunnah melebihi satu kali basuhan ? tapi hadits-hadits shahih yang menjelaskan tatacara berwudhu nabi pun sudah cukup menjelaskan bahwa semua yang melebihi dari satu, baik itu dua maupun tiga adalah sunnah, karena kalimat amr ( perintah ) hanya menuntut satu kali. Yang menjadi permasalahan adalah dalam jumlah sapuhan kepala, Imam Syafi’i berpendapat bahwa jika seseorang berwudhu dari awal masing-masing tiga kali, maka ketika menyapu kepala pun tiga kali sapuhan. Perbedaan ini bersumber pada hadits yang warid dari Sayyidina ‘Utsman RA yang berwudhu secara keseluruhan sebanyak tiga kali basuhan tapi hanya sekali usapan dikepala, dan ada hadits yang tidak bersumber dari beliau yang berisikan tatacara seluruhnya tiga kali basuhan dan tiga kali sapuhan, Imam Syafi’i mempermudah dengan mewajibkan untuk menerima rwayat-riwayat ini baik yang satu, dua, ataupun tiga kali karena seluruhnya bersumber pada hadits shahih[13].

Sebagian masyarakat muslim Indonesia menganggap bahwa telinga termasuk salah satu fardhu wudhu, namun hal itu masih diperdebatkan oleh para ‘alim ulama. Menurut sebagian ulama membasuh telinga termasuk rukun wudhu dan mereka menta’wilkan pendapat ini adalah pendapat Imam Malik, begitupun menurut Abu Hanifah dan Ashhabnya namun beliau mengatakan bahwa telinga dapat dibasuh dengan air sisa basuhan kepala berbeda dengan Imam Malik yang berpendapat fardhu namun dengan air yang baru. Menurut Imam Syafi’i keduanya bukanlah fardhu namun sunnah wudhu dan harus menggunakaan air yang baru. Dalam kitab Mishbah diterangkan bahwa yang mengisyaratkan untuk menggunakan air yang baru adalah ; Imam Syafi’i, Malik, Ahmad bin Hanbal. Dan hadits yang tertera dalam kitab ini menguatkan pendapat golongan madzhab Hanafiyah :

ثمّ مسح برأسه و أدخل أصبعيه السباحتين فى أذنيه ومسح بإبهاميه ظاهر أذنيه[14]

pokok perdebatan dalam masalah ini adalah apakah hadits yang berbunyi :

مسحه عليه الصلاة والسلام أذنيه

Apakah hadits itu menjadi penjelas dari mujmalnya al Qur’an atau tidak ? bagi yang mengatakan tidak berarti tidak bisa memasukkan telinga dalam fardhu wudhu karena akan ada i’tirodh antara ayat dan hadits, bagi yang berpendapat hadits itu adalah penjelas ayat tentang wudhu yang telah disebutkan diatas maka bias menempatkan telinga sebagai salah satu fardhu wudhu, namun kami tidak bisa mengambil keputusan-keputusan yang valid karena dalam Bidayah al Mujtahid karangan Imam Ibnu Rusydy, banyak didapati pendapat-pendapat yang hanya sebuah ta’wil-ta’wil kepada salah seorang imam empat madzhab.

Pada masalah tartib wudhu yang dinyatakan oleh Imam Syafi’i wajib ada beberapa pendapat, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah, Malik, golongan ashhab Imam Malik yang modern, ats Tsaury, dan Daud az Zhohiry. Sedangkan yang sependapat dengan Imam Syafi’i adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu ‘Ubaid. Sebab perbedaan pendapat ini terpusat pada huruf wau و dalam ayat tentang wudhu apakah berfaidah tartib dan nasaq ( tersusun ) seperti yang dikatakan oleh ulama Kufah ataukah hanya bersifat menjama’ saja, seperti yang diutarakan oleh ulama Bashrah ? inilah yang menjadi perbedaan pendapat antara alim ulama, maka jikalau kita lebih condrong ke pendapat ulama Kufah maka tertib adalah sebuah fardhu wudhu. Terlebih ada hadits nabi yang berbunyi  إبدؤوا بما بدأ الله به    yang seakan memperjelas bahwa tartib dalam wudhu itu merupakan salah satu fardhu wudhu. Adapun muwalat yang diklaim oleh Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal sebagai sebuah fardhu pun juga diperdebatkan oleh para ulama, menurut Imam Syafi’i dan Abu Hanifah Muwalat adalah sebuah pekerjaan sunnah, sebab perbedaan ini pun didasari pada huruf ‘athof tadi, yaitu و  , karena ada yang berpendapat و  tersebut mengathofkan kalimat-kalimat yang beriringan dan “menempel” maka dengan ini muwalat itu salah satu fardhu wudhu. Namun ada yang berpendapat bahwa و   tersebut mengathokan kalimat perkalimat dalam ayat wudhu dalam keadaan “longgar” artinya tiding menempelkan satu dengan yang lainnya, sebagian kaum menggunakan hadits :

بما ثبت عنه أنّه عليه الصلاة والسلام كان يتوضّأ في أوّل طهوره ويؤخرغسل رجليه إلى أخر الطهور[15]

jika kita tinjau hadits ini, kita dapat fahami bahwa muwalat bukan termasuk salah satu fardhu wudhu.

 

BAB IV

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU

Diantara hal-hal yang dapat membatalkan wudhu ialah :

  1. hilang akal, dan tidur termasuk dalam hal ini namun ada pengecualian bagi tidur yang duburnya tidak terangkat artinya keadaannya tetap. Dalam masalah ini ada delapan pendapat[16].
  2. haidh, dengan redaksi hadits : فإذا أقبلت حيضتك فدعى الصلاة   dan bisa difahami wudhu pun menjadi batal.
  3. keluar madzi, dengan redaksi hadits : فيه الوضوء
  4. bertemunya dua kulit laki-perempuan yang kedunya lain mahrom dan keduanya sedah mukallaf, dalam hal ini ada beberapa pendapat karena membicarakan hadits :

أنّ النيّ صلّى الله عليه وسلّم قبّل بعض نسائه ثمّ خرج إلى الصلاة ولم يتوضّاء

أخرجه أحمد وضعّفه البخاري

Imam Abu Ahnifah berpandapat mengecup indentik dengan bersentuhannya kulit terledih bertemunya dua khitan ( kelamin ) dan dari hadits ini bias difahami bahwa bersentuhan kulit antara perempuan tidak membatalkan wudhu, karena yang dimaksud dalam ayat اَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ   adalah jima’ menurut Imam Abu Hanifah. Menurut Imam Malik jika dengan syahwat batal dan jika tidak maka tidak batal, ini seperti yang diutarakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, menurut Imam Syafi’i bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan baik dengan syahwat maupun tidak tetap mwmbatalkan wudhu, karena beliau mengartikan لَمَسَ  dalam ayat diatas muthlak bersentuhan.

  1. keluar sesuatu dari salah satu dua jalan baik dalam bentuk padat, gas, cair
  2. menyentuh dzakar, walaupun ada hadits yang menyatakan tidak apa-apa dalam arti tida perlu berwudhu, tapi dating hadits selanjutnya yang menyatakan harus berwudhu, hadits ini menasakh hadits yang sebelumnya, karena Ibnu Hajar al ‘Asqalani mempunyai karateristik penyusunan seperti demikian.[17]

 

 

 

 


PENUTUP

Demikianlah karya tulis kami yang singkat, yang kami sadari masih terdapat banyak kesalahan di dalamnya yang diakibatkan oleh kekurangan dan kebodohan kami, kami berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami terutama untuk memahami pelajaran agama terutama ushl fiqh dan fiqh dan juga semoga bermanfaat dengan manfaat yang lebih luas. Amin

 

والله الموفّق إلى أقوام الطارق

 

Daftar Pustaka

ad Dary, Syeikh Mohammad Muhajirin Amsar. 2002. Mishbah az Zhulam al Juz ‘ul awwal. Jakarta, Indonesia : al Hidayah.

ad Dary, Syekh Mohammad Muhajirin Amsar. 2000. al Qowa’idul Khomsil Bahiyah. Jakarta, Indonesia : al Hidayah.

al Bajury, Syekh Ibrohim. 1997. Hasyiyah al Bajuri ‘Ala Fathul Qarib. Semarang, Indonesia : Maktabah al Haromain.

al Jaziry, Syeikh Abdurrahman. 2003. Kitab al Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah. Beirut, Lebanon : Daar el fikr.

al Qurthuby al Andalusy, Al Imam al-Qadhi Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusydy. 2008. Bidayah al Mujtahid wa Nihayah al Muqtashid. Beirut, Lebanon : Daar el fikr.

as Suyuthi, Syekh Jalaluddin. 1995. Tanwirul Hawalik.  Surabaya, Indonesia : Darul Ihya’ al Kutubul Ilmiyah.

Munawwir, KH. A. Warson. 1997. Kamus Al Munawwir Arab-Indoneisa Terlengkap. Surabaya : Pustaka Progresif.


[1] Syekh Moh. Muhajirin Amsar ad Dary ,Mishbah az Zhulam Jilid 1, h : 44. Pustaka Al Hidayah, Jakarta.

[2] Syekh Abdur Rahman al Jaziry ,Kitab al Fiqih ‘ala Madzahibil arba’ah Jilid II, h : 57. Daar el Fikr, Beirut..

[3] Ibid, Hal : 58.

[4] Bidayah al Mujtahid, Imam Ibnu Rusydi, h : 14. Daar el Fikr, Beirut.

[5] Mishbah az Zhulam Jilid 1, h : 48.

[6] Riwayat dari al Mughiroh yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Sunan Abi Daud

[7] Mishbah az Zhulam Jilid 1, h : 48

[8]  Kitab al Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah Jilid II, h : 60

[9] Bidayah al Mujtahid, Jilid I, h : 11, silahkan anda lihat karena disana ada perdebatan yang sangat panjang.

[10] Muttafaq ‘Alaih, Mishbah az Zhulam Jilid I, h : 50.

[11] Ibid, Hal : 50.

[12] Bidayah al Mujtahid Jilid I, h : 12-13, dan  ada banyak pendapat lainnya.

[13] Ibid, hal 14

[14] Riwayat Abu Daud dan an Nasa’i dan di-shahih-kan oleh al Hakim.

[15] Ibid, h : 18-19.

[16] Mishbah az Zhulam Jilid I, h : 73.

[17] Silahkan lihat Mishbah az Zhulam Jilid I, karangan Syeikh Moh. Muhajirin Amsar ad Dary halaman 80 dst, karena disana banyak sekali permasalahan yang tidak dapat kami sebutkan atau jabarkan di sini.